Cara mengukur ROI Strategi Pemasaran Konten

Kebanyakan orang pada ahirnya setelah masa tertentu berhenti atau tidak lagi bersemangat mengelola blog. Tapi tidak sedikit orang sukses mengelola blog yang menghasilkan pendapatan, dan untuk mendapatkan kesuksesan sebagai blogger membutuhkan waktu, mungkin dalam kurun waktu setahun, dua tahun atau sepuluh tahun.

Sebuah survei yang dilakukan Technorati di tahun 2008 menunjukkan sekitar 95% blogger merasa tidak mendapatkan kesuksesan dari mengelola blog dan pada ahirnya berhenti mengelola blog.  Sebagian dari alasan mengapa tingkat keberhasilan mengelola blog yang rendah adalah bahwa sebagian besar dari kita sulit memprediksi apa dan bagaimana ukuran sukses mengelola blog.


"Jika saya blogging setiap hari selama satu bulan, apakah saya akan mendapatkan sebuah keberhasilan tertentu?".  Mungkin, tapi boleh jadi kita membutuhkan waktu enam bulan untuk mencapai hasil tertentu dari aktifitas blogging.  Tidak berarti bahwa pencapaian tujuan lebih cepat tidak layak diperjuangkan.

Sebelum Internet menerbitan dan mendistribusikan tool-tool gratis yang bisa digunakan siapapun, perusahaan yang ingin mengekspos merek perusahaan mereka membayar untuk waktu dan/atau penempatan pada properti media pihak ketiga (iklan radio, iklan TV, spanduk).  Namun perkembangan yang besar terjadi di dunia online menjauhkan orang dari pemasaran tradisional dan pemasaran melalui media berbayar, hingga pada akhirnya usaha menciptakan merek sendiri melalui konten dan menyebarkannya melalui media gratisan termasuk media sosial menjadi trend yang populer.

Tapi memang mengukur laba atas investasi (ROI) pada konten adalah sulit, terutama jika kita tidak menilai keberhasilan berdasarkan pendapatan periklanan.

Namun perlu kita ketahui bahwa ada banyak ukuran keberhasilan mengelola blog dan tidak harus dalam bentuk hasil periklanan, bisa berupa bangunan komunitas blog kita, jumlah pelanggan atau orang yang berlangganan aritikel kita, dan bentuk branding kita.

Menerbitkan konten merupakan sebuah biaya, dan mengukur hasil dari konten kita penting.  Tapi strategi konten yang efektif membutuhkan kerja yang konsisten yang akhirnya harus dilakukan adalah rutin menerbitkan konten dalam jumlah yang mencukupi.  Bila menerbitkan 1 konten dalam setiap bulan meskipun waktu yang dilalui mencapai sepuluh tahun hal itu tentu saja tidak memiliki arti apa-apa.  Jadi bagaimana kita meyakinkan diri kita sendiri bahwa konten adalah investasi yang baik?. 

Berikut adalah tiga langkah untuk secara efektif mengukur strategi pemasaran konten.


1.  Memahami Apa yang kita ukur.

Perusahaan media tradisional menggunakan pembaca dan pendapatan iklan sebagai tolok ukur bagi keberhasilan konten.  Dalam pemasaran konten, bagaimanapun juga, tujuannya biasanya untuk mencapai semacam konversi atau untuk membangun "brand awareness," dan ukuran semacam ini agak samar.

Sebuah konversi dapat terdiri dari sebuah mailing list atau pelanggan RSS, jumlah orang yang mendaptar sebagai anggota komunitas blog kita, panggilan telepon, jumlah penjualan atau sejumlah interaksi dengan pengunjung.  Langkah pertama untuk mengukur ROI pada strategi konten kita adalah menetapkan tujuan.

Jika tujuan konten blog kita adalah untuk meningkatkan jumlah orang mendaftar di komunitas blog kita, kita harus terlebih dahulu mengetahui berapa banyak signup kita dapatkanan sekarang, dan dari apa sumber-sumbernya?.  Setelah kita memulai usaha konten kita, kita ingin untuk dapat mengukur hasilnya.

2.  Pasang plugin atau tool dasar untuk mengukur sukses awal.

Kecuali kita sudah mulai dengan jumlah pengunjung yang banyak (mailing list yang besar, basis komunitas yang kuat, dll), akan memerlukan waktu untuk membangun momentum, dan bahkan lebih lama lagi untuk mulai melihat konversi yang terjadi di blog kita.  Namun, beberapa plugin atau tool, proxy berikut ini dapat membantu kita mencapai dan mengukur ROI blog:
Facebook like, facebook share
twitter share
Linkedin
Reblogs
back Link
Komentar
Waktu yang dihabiskan dalam sebuah kunjungan
Rata-rata tampilan halaman per pengunjung (terutama juga untuk mengukur efektifitas bangunan link internal pada posting kita)
follower

Tool, plugin ini akan memonitor seberapa baik konten kita beresonansi, bagaimana kita membangun kepercayaan pada merek kita.  Rasa percaya yang pada akhirnya akan berubah menjadi kesetiaan, advokasi dan konversi yang terus menerus.
Sangat penting untuk dicatat bahwa apa yang kita cari adalah garis trend.  Jumlah retweets atau jumlah share terhadap konten kita dibandingkan dengan share terhadap konten sebelumnya di situs kita lebih berguna ketimbang jumlah tweet atau share secara total.

Meskipun nampaknya bukan jumlah yang banyak, rata-rata 3 share untuk tiap posting hari ini dibandingkan rata-rata satu share tiga minggu lalu merupakan sebuah tanda kemajuan.

Strategi pemasaran konten untuk kebanyakan bisnis bukanlah tentang sebuah ukuran instan terhadap keberhasilan mendapatkan iklan, karena itu, data ROI yang jelas dan lengkap dapat memakan waktu cukup lama untuk terwujud.  Bagaimanapun juga ROI umumnya akan terus meningkat seiring dengan konsistensi kita menerbitkan konten baru terus menerus.

Pada akhirnya, perencanaan, pelacakan dan konsistensi kita menerbitkan konten baru secara kontinyu akan membantu kita mencapai sukses.  Darren Rowse, pendiri Problogger baru-baru ini menulis di twitter, "membangun blog seperti membangun otot tubuh kita." (http://www.problogger.net/archives/2011/06/23/building-blogs-is-like-building-muscles/).  Seperti halnya membentuk tubuh, butuh kesabaran lebih untuk mencapai sukses dalam mengelola blog.